Selasa, 25 Juni 2013

Sekolah Dambaan, Hanya Ada Dalam Angan

Membahas sekolah dambaan pasti semua orang memiliknya di angan masing-masing. Iya hanya angan-angan. Realitanya kita mendapatkan sekolah yang standar-standar saja atau kita memang terpaksa memasuki sekolah yang sekarang, karena hanya sekolah itu yang terbaik di lingkungan kita. Kesan pertama kali kita masuk sekolah pasti tak sesuai yang ada dalam angan, ya apa boleh buat. Tapi seiring kita keluar masuk sekolah dan bergantinya hari kita mulai merasa comfort dengan sekolah yang sekarang. Kriteria sekolah dambaan dalam angan pun mulai terlupakan.



Sebelum angan itu terlupakan biasanya kita selalu memperbarui atau menambah gambaran sekolah dambaan kita. Dimulai dari membayangkan gurunya, fasilitas & lingkungan sekolah, mata pelajaran, tugas & pekerjaan rumah, hubungan dengan teman, serta ujiannya. Di bawah ini merupakan penjabaran sekolah dambaan saya yang masih tersimpan dalam angan dan belum terlupakan.

1.Guru
Baik, semua murid pasti menginginkan sifat ini dalam diri gurunya. Sementara definisi baik sendiri tergantung penilaian dari muridnya. Misal murid itu jarang masuk kelas, nakal dan nilainya aslinya selalu bobrok tetapi sang guru itu selalu memberi nilai yang memuaskan dan guru itu sendiri jarang masuk ke kelas, sekalinya masuk malas mengajar. Padahal niat guru tersebut memberikan nilai memuaskan demi citranya sendiri agar dianggap guru lain sebagai pengajar yang baik, jarang masuk kelas tetapi nilai murid-muridnya selalu bagus. Jadinya murid itu sendiri menganggap guru tersebut sebagai guru baik.

Yang saya inginkan adalah 'sifat ingin berbagi ilmu' dari sang guru. Di mana kalau sang guru memiliki sifat itu pasti juga diikuti dengan sifat positif yang lainnya. Guru tersebut pasti selalu intropeksi diri dengan bertanya kepada muridnya apakah ada yang kurang dari penjelasannya, sifatnya dalam mengajar. Sudah jarang. Biasanya sebelum menjadi guru pasti dalam benaknya ada kalimat aku ingin menjadi seorang guru agar bisa membagi ilmu tapi kalimat itu mulai terlupakan seiring susahnya belajar di dunia perkuliahan.

Setelah sudah mendapat gelar guru pasti sudah merasa aman, karena saat mengajar di sekolah nanti sang guru bisa menjadikan murid sebagai asistennya agar pekerjaan menjadi mudah. Sampai-sampai asisten itu harus membuat soal ulangan untuk teman-teman kelasnya, sementara asisten tidak usah mengikuti ulangannya karena sudah pasti mendapatkan nilai bagus karena sudah mau dijadikan asisten oleh sang guru. Bukan guru seperti ini yang saya inginkan.

Guru yang saya inginkan adalah guru yang merasa sedih jika muridnya mendapat nilai kecil bukan memarahi muridnya karena mendapat nilai kecil. Murid tersebut mendapat nilai kecil sebab penyampaian gurunya yang kurang jelas, tapi guru malah menyalahkan bukan mengkhawatirkan dan peduli akan nilai kecil yang didapat muridnya.

2.Fasilitas dan Lingkungan Sekolah
Nyaman, itulah kata yang cocok jika fasilitas dan lingkungan sekolah sudah terasa cukup. Kebersihan merupakan salah satu faktor yang membuat kata 'nyaman' muncul. Masih banyak di sekolah-sekolah sekaran yang kebersihannya belum terjaga, terlebih lagi di toiletnya. Apalagi saat hujan pasti lantai sekolah menjadi becek dikarenakan sepatu murid-muridnya yang terkena tanah saat perjalanan berangkat ke sekolah ataupun terkena tanah lapangan sekolah.

Jika sekolah di Jepang sana mereka menggunakan sistem sepatu khusus dalam sekolah yang di mana sepatu itu hanya digunakan di lingkungan sekolah saja dan tidak dibawa pulang ke rumah kecuali untuk dicuci. Jadi sepatu yang mereka kenakan saat berangkat ke sekolah dengan sepatu yang digunakan saat di dalam gedung sekolah itu berbeda. Dikhususkan.


Dengan digunakan sistem pengkhususan sepatu seperti itu bisa mewujudkan lantai yang bersih, kerja office boy sekolah juga berkurang, lebih mudah. Tapi jika sistem itu dipakai di Indonesia harusnya didukung juga dengan bentuk bangunannya. Harus seperti gedung kantoran tapi tidak terlalu banyak tingkatnya sampai tingkat belasan. Bukan seperti bangunan sekarang yang berbentuk baris-baris.



Fasilitas untuk terhubungan dengan jaringan internet. Biasanya guru mengabaikan ini. Guru hanya tau wi-fi sudah terpasang jadi murid bisa menggunakan fasilitas semaunya. Padahal wi-fi tersebut memiliki password yang murid-murid tidak mengetahuinya. Guru hanya tau yang penting sudah ada daripada tidak ada seperti sekolah lain. Saat ditanya passwordd-nya apa guru malah menjawab "memang pakai password ya? kalau gitu saya tanya dulu ke teknisi yang memasangnya". Yang penting ada.

3.Hubungan Guru dan Orang Tua
Kembali ke poin 1, jika guru memang peduli dengan muridnya pasti sang guru berkomunikasi dengan orang tuanya untuk membicarakan perkembangan anaknya di kelas. Jika murid tersebut termasuk ke dalam anak yang kurang cepat dalam memahami pelajaran sang guru bisa memberi tahu orang tuanya agar muridnya mengikuti pelajaran tambahan di luar sekolah.

Anak biasanya jika berbicara tentang sekolah dengan orang tuanya sering mengalami kesulitan dalam menyampaikannya. Di sinilah peran guru dipakai kembali, murid tersebut bisa meminta bantuan sang guru untuk menjelaskan ke orang tuanya. Biasanya jika sesama orang dewasa saling berbicara itu agak canggung jadi si anak/murid tidak terkena amarah orang tuanya. hehehe

4.Tugas dan Pekerjaan Rumah
Sama seperti poin 3 yaitu kembali ke poin 2, jika guru mengerti keadaan murid pasti sang guru akan menyesuaikan tugas atau Pekerjaan Rumah (PR) yang akan diberikan. Memang latihan (tugas &PR) di rumah itu perlu untuk mengulangi kembali pelajaran yang diberikan di sekolah. Tapi mayoritas guru memberikan tugas/PR yang banyak, jadi kesempatan istirahat di rumah menjadi berkurang. Belajar di sekolah 7 jam ditambah lagi pekerjaan untuk di rumah yang terkedang diselesaikan butuh waktu lebih dari 1 jam.

Memang egois jika saya menuntut semua hal di atas tapi kembali ke judul, sekolah dambaan hanya dalam angan. Saya sebagai murid hanya bisa menerima keadaan sekolah yang sekarang, jika enggan menerima harusnya kalian melihat teman-teman seumuran kalian yang sekolahnya bahkan jauh dari keadaan sekolah kalian sekarang.



sumber gambar:
http://fujibayashi.jp/tag/baka-to-test-to-shoukanjuu/
http://socialandculturee.blogspot.com/2011/03/japanese-school-experince.html
http://www.cynicaltravel.com/blog/?p=13
http://youth-esn.16mb.com/sekolah-dambaanku/sekolah-dambaanku-blog-competition/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Itu ceritaku apa komentarmu ? Berbagilah komentar jangan sungkan.

Menerima kritik dan saran yang bersifat membangun (bukan membangunkan emosi negatif).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...